Kamis, 09 Juni 2011

Sekeping Keyakinan

“Assalamu’alaikum!”
Salamku sambil sesekali mengetuk pintu yang terbuat dari ukiran kayu jati itu. Belum ada jawaban, kucoba sekali lagi
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Terdengar suara seseorang dari balik pintu, suara yang sudah kukenal tentunya, diiringi langkah kaki yang semakin mendekati pintu. Jantungku berdebar kencang. Kudengar decitan kunci slot dibuka.
“Eh, De Johan!”
Menyembul dari baik pintu seraut wajah yang selalu tersenyum ramah dan berwibawa, janggutnya yang lebat dan putih menandakan umurnya yang telah lanjut, peci putih yang senantiasa menutupi kepalanya menunjukan kalau dia sudah pernah menginjak tanah suci.
“Saya! Pak Haji, maaf mengganggu.”
Kucoba bersikap sesopan mungkin.
“ Ya… tidak apa-apa, mari silakan duduk!”
Ucap pak haji sambil menunjuk dan bergerak ke arah sepasang kursi kayu yang dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Seperti biasa, senyum khasnya tak pernah lepas dari wajahnya.
“Bagaimana kabarnya De Johan!”
“Baik, baik pak haji, terima kasih. Pak Haji sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah baik, oh ya ngomong-ngomong ada perlu apa Ade ke mari.?’
Waduh…. kenapa langsung to the point, pak haji langsung buat aku semakin gugup saja, padahal kan belum cukup basa-basinya. Tapi…ehm, aku harus berani akan kuutarakan maksudku yang sebenarnya.
“ E… maaf Pak Haji, e…. maksud saya …e… maksud saya anu..eh.”
Gawat! Aku makin gugup, ludahku tertelan beberapa kali, kata-kata yang sudah kupersiapkan jadi berantakan.
“Tak usah malu De! Katakan saja ayo.”
Kok aku jadi malu begini, aku malu menatap wajah pak haji, tanganku gemetar bibirku juga. Ku ambil napas panjang dan …
“Begini Pak Haji maksud saya…ee..anu.. maksud saya datang ke rumah Pak Haji Saya mau e… anu….e…..anu.” Mati aku!
“Loh kok jadi kebanyakan anu sih?”
Kata pak haji ramah dan tiba-tiba”Plok” Kurasakan tangan hangat pak haji menyentuh pundakku dan tawanya pun berderai. Bikin aku salah tingkah. Ya Tuhan aku harus bagaimana ini…
Malu-malu kuangkat kepalaku yang dari tadi menunduk, sesaat kulirik wajah pak haji. Masih terlihat tenang hanya saja sempat kulihat segurat kejenuhan di wajahnya, aku harus cepat-cepat ,tidak boleh buang waktu lagi.
“E.. Pak Haji…” Kenapa kurasakan genggamannya mengencang.
“De Johan!”
Wah gawat! Apa beliau sudah tau maksudku, kenapa pandangannya tiba-tiba berbeda seolah-olah menyelidiki sesuatu, beliau terus menatap wajahku dan yang paling membuatku takut………………..senyumnya hilang!
“ Apakah De Johan?” Wow aku benar-benar skakmat!!
“Cape?”
“Hah???” Ah.. untung saja, aku pikir beliau bisa membaca pikiranku. Beliau sanggup membuat adrenalinku terpacu cepat. Kuyakin pak haji melihat keringat yang bercucuran dari wajahku, padahal ini bukan keringat kecapean tapi keringat dingin karena gugup.
“Saya suruh Ratri ambil minum ya!”
“Eh.. Tidak usah Pak Haji!”
Genggamannya terlepas, sedangkan tasbih di jemari kirinya tak henti-hentinya diputar, bibirnya bergetar pelan. Dan jantungku… bergetar hebat.
“Ya sudah kalau begitu.”
Lagi-lagi kulihat segurat kejenuhan tadi, jadi tak ada waktu lagi sekaranglah saatnya, ehm… kuambil napas berulang kali dan sesekali sempat kutelan ludahku untuk melumasi kata-kataku nanti.
“ Baik Pak Haji, maksud saya datang kemari…” Ayo Johan!
“ Maksud saya, e… saya ingin.”Bagus Johan, sedikit lagi!
“ Saya ingin, saya ingin minta maaf sebelumnya Pak Haji.” Ah… kok basa-basi lagi, payah deh.
“Tapi kan saya belum tahu maksud De Johan, tak usah minta maaf dulu deh.”
Aku makin tertunduk saja mendengarnya, bagaimana ya ekspresi wajahnya nanti setelah kuberi tahu maksudku. Makanya aku harus cepat, jangan terlalu bertele-tele dan berbasa-basi!
“Jadi sebenarnya Pak Haji, saya ingin…”Yah hampir!
“Saya ingin, me….me….melamar putri Pak Haji.”
Ah..lega, seperti ada sesuatu beban yang berhasil kukeluarkan, eit jangan senang dulu berikutnya aku belum tahu. Perlahan kulirik wajahnya. Ah kok tetap tenang, malah bias kubilang tanpa ekspresi, pandangannya lurus ke depan hampa seolah lagi memikirkan kata-kata yang barusan kuucap.
“Jadi itu maksud De Johan datang kesini?”
Glek, aku hanya bisa menelan ludah dan menggangguk lemah. Eh, tiba-tiba beliau menoleh kearahku matanya menatap tajam ke arahku, aku salah tingkah dibuatnya.
“Sebenarnya De Johan memang sudah siap untuk menikah.”
Kalau itu aku juga tahu, tapi maksudnya apa sih?
“Dan saya lihat De johan juga sudah mapan.”
Ah lagi-lagi kalimatnya ambigu, walaupun nadanya memuji tetap aku harus bersiap menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi. Telah kusiapkan hatiku menerima jawabannya.
“Tapi saya tak bisa menikahkan Ratri dengan De Johan .”
Ah setegar apapun aku, tetap saja hatiku hancur mendengarnya.
“Memangnya kenapa Pak Haji?”
Loh kok aku berani bertanya ya?
“Karena saya hanya akan menikahkan putri saya dengan orang yang satu agama dan satu keyakinan dengan saya.”
Ternyata itu alasannya perbedaan agama. Memang sih kata orang aku tuh terlalu berani melamar anak pak haji, tapi aku sempat berpikir agama bukanlah penghalang tapi ternyata menjadi batu sandungan yang besar. Bodoh aku!!!!
“Kecuali….”
“Kecuali apa Pak Haji?”
“Kecuali kamu masuk Islam.”
“???????????”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar