Rabu, 08 Juni 2011

Harapan di Ujung Senja

Hanya sesekali memandangnya dari sudut mataku, dia duduk tepat di samping jendela kaca yang tertembus sinar matahari senja. Wajahnya yang putih tampak bersinar terkena cahaya yang keemasan. ingin Rasanya menatapnya lekat-lekat tapi apa daya.. rasa malu menggugurkan niatku

Dia bagai seorang putri yang berdiri diatas istana yang menjulang tinggi ke angkasa, dengan tatapan kosong kearah matahari terbenam, mungkin dia sedang memikirkan sosok pangeran yang kelak menjadi pendamping hidupnya.
Aku hanya menengadah dengan tatapan penuh kekaguman, melihatnya dari bawah istana. aku hanya orang kecil yang berharap menjadi pendampingnya kelak. Tapi sayang aku bukanlah idamannya. aku bukan sosok pangeran yang dia idamkan. Ku menunduk malu atas sekelebat khayalan indahku, yang akan tetap menjadi khayalan.

Tiba-tiba ku terbangun dari anganku, aku tak ingin terlalu lama hanyut dalam imajinasi tak tentu yang membuatku kehilangan arah dalam hidupku. Kembali kulirik dia, dia masih dalam diamnya. duduk sendiri, terpekur menatap belasan lembar kertas yang sedari tadi diamatinya dan sebuah buku tebal yang sesekali dibacanya. Matanya sejuk dan tajam, maka dari itu aku selalu berusaha menghindari pandangan mata dengannya.. Beruntung dia tak pernah melihatku. Mungkin karena aku tak pantas dilihat.

Dia sangat manis walaupun seungging senyuman sangat jarang menghiasi wajahnya. bahkan murungnya begitu indah, apalagi melihat senyumnya adalah anugerah untukku. Melihat senyum sang puteri.
"Subhanallah" Kalimat indah itu terucap begitu saja kala ku berhasil mencuri anugerah itu. Melihat senyumnya. Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk ini dengan segala pesonanya. Lagi-lagi kulihat dia dari sudut mataku, ah senyum itu terlalu cepat berlalu, namun meninggalkan kesan yang mendalam untukku. Apa yang membuatnya tersenyum? Mungkin cerita humor yang dibacanya dari buku tebal itu? Ah mana mungkin buku yang lebih mrip kamus bersusun itu memuat cerita humor. Atau karena lembaran kertas itu? Ah lembaran kertas itu lebih mirip makalah yang belum dijilid, dan mana mungkin makalah itu menggelitik syaraf sensoriknya.

Aku tak yakin dengan perasaanku, dan aku masih tak berani mengartikan ini sebagai cinta, tepatnya, ini hanya kekagumanku padanya dan penciptanya.. Pencipta segalanya. Ku bersyukur atas nikmat ini.

Kenapa tiba-tiba dia merapikan kertasnya, melipat selembar halaman buku dan kemudian menutupnya. Apa dia tahu jika aku sedang mengamatinya, atau dia merasa terganggu dengan lirikanku. Entah.
Dia peluk buku tebal itu dan beranjak dari kursi yang berdecit kala dia mengangkat tubuhnya. Masih dengan tatapan kosong, dia melangkah ke arahku melewati rak-rak buku yang berjejer sepanjang jalan, aku hanya menunduk, sunyinya ruangan membuatku dapat mendengar tiap hentakan kakinya dengan sangat jelas. Tapi hentakan jantungku jauh lebih hebat terdengar, seperti detak jantung pelari marathon yang berhenti di garis finish dan meninggalkan lawan-lawannya jauh di belakang. Aku tak tahu raut wajahnya sekarang, tak berani aku mengangkat wajahku...
Derap langkah kakinya terasa semakin dekat, bahkan semakin dekat. Ku perbaiki letak kacamataku yang sudah benar. aku gugup, kupandangi deretan matrix di layar di hadapanku yang sebenarnya tak pernah aku pedulikan dari tadi. Dia semakin dekat, ku bisa rasakan auranya.. dan..

"Pak! Saya pinjam buku ini untuk seminggu ya.."
Ku beranjak dari kursiku dengan tergesa.. Waw kini dia tepat di hadapanku.
Kutundukan kepalaku dan mengangguk dua kali tanpa bicara apapun. Dia menyodorkan selembar kartu bersama buku tebal itu dan seperti biasa kutulis tanggal pinjam di balik sampul belakang buku.
"Terima kasih Pak!" Angguknya sambil tersenyum padaku.
Ku balas dengan anggukan dan senyum semanis yang kumampu.
Mataku masih menatapnya, kala dia berjalan melewati pintu dan berakhir dengan decitan kecil seiring dengan terbatasnya pandanganku oleh pintu yang tertutup.

Ah.. "Pak" panggilan itu telah menyadarkanku bahwa ku sudah terlalu tua untuk hal seperti ini.
Aku memang sudah berkepala tiga, namun apakah itu menjadi halangan bagiku untuk mendekatinya..
Aku hanya seorang pengangguran yang hanya karena belas kasihan seseorang aku diamanati untuk menggantikannya bekerja sebagai seorang pustakawan. Belum ada yang mau menjadi pendamping hidupku, atau tepatnya tidak ada yang mau. Hidupku yang sebatang kara, ditambah penghasilanku yang ala kadarnya, rumah kontrakan dengan 3 bulan tunggakannya.. ditambah wajahku yang jauh dari rupawan. Sedangkan dia seorang mahasiswi yang rajin menjelajahi tiap sudut di perpustakaan umum ini, wajahnya biasa saja, namun sarat dengan pesona keindahan. Dia selalu duduk dibawah jendela tiap senja, membaca buku-buku tebal dan menulis sesuatu pada lembaran-lembaran kertas yang dibawanya, baru kali ini dia meminjam buku, baru kali ini dia tersenyum padaku dan baru kali ini aku melihatnya dari jarak dekat. Andai dia bersedia duduk bersamaku dalam pelaminan kelak...

Ah apa aku terlalu banyak berharap...??
Menikah...!!
Di usiaku yang sekarang..

Harapan itu masih dan akan selalu ada,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar