Senin, 10 September 2012

pepesan kosong

pepesan kosong ini lakonnye
sayang disayang
enak didenger sambil sarapan
yang kantongnya kosong banyak akalnye
aduh nyonya
yang kantongnya kosong banyak akalnye
gak gablek duit banyak utangnye

pepesan kosong lagu betawi
sayang disayang
betawi ada bukan semarang
paling kesian anak betawi 
aduh nyonyah
paling kesian anak betawi
negerinye abis diambil orang

senayan digusur, kemayoran digusur, tebet digusur.
engkong digusur, uyut digusur, encang digusur,..
            Hehehe.. tertawa sendiri saya mendengar lagu lama  ini, jadi teringat film 90 an pepesan kosong sebuah sitcom betawi yang benar-benar mengedepankan kebudayaan betawi. yah dulu saya masih sangat kecil, sehingga tidak begitu ingat betul cerita-ceritanya, tapi beberapa karakternya saya ingat seperti pak bolot yang jadi erte pak malih tong-tong jadi hansipnyeh hehe.. bawaannya kesel mulu dia kalo udah ngomong sama pak erte yang bolot hihihi… juga mat tuyul yang kepalanya sering jadi korban toyoran orang-orang hehe.. wah benar-benar lucu. Sitcom seperti itu sayangnya sudah tidak ada lagi sekarang digantikan dengan sitcom-sitkom yang menonjolkan hal-hal yang vulgar hmm bukan budaya.
            Saya sudah coba cari videnya di yutub tapi tidak saya temui, yah mungkin film ini terlalu jadul, atau mungkin tidak ada record lagi tentang film ini, waduh sayang sekali kalau begitu. Yang saya temui hanya lagunya saja di yutub dengan videonya hanya gambar sebuah bayangan laki-laki berpeci yang berlambang tanda Tanya dan ada tulisan singgasana DKI. Yah sepertinya istilah pepesan kosong jaman sekarang lebih mengacu pada dunia politik kita tidak hanya di Jakarta tapi dihampir semua lapisan politik,, itu semua hanya pepesan kosong.
            Wah saya tidak mau bahas masalah politik, tidak menegrti saya hehe.. lebih baik dengerin lagu ini saja yang masih saya ulang-ulang. Dulu saya tidak begitu paham maksud lagu ini, tapi sekarang saya mengerti. Lagu ini sebenarnya menceritakan sedikit tentang kehidupan  masyarakat betawi, apalagi pada bait terakhir, “paling kesian anak betawi negerinya abis diambil orang” kemudian secara terang-terangan lagu ini juga menyebut nama daerah seperti senayan, kemayoran dan tebet. Kita pasti tahu daerah yang disebut itu sekarang menjadi kota metropolitan  banyak gedung-gedung bertingkat perumahan elit dan lain sebagainya.. kemana kampong betawi?? Yah digusur seperti kata lagu itu.
            Tapi itulah orang betawi, mereka bahkan membuat lagu yang menceritakan kemalangan atau kesedihan dengan nuansa ceria dengan ritme yang menyenangkan, saya bahkan dulu tidak tahu bahwa lagu ini menceritakan hal seperti ini. saya bangga dengan orang-orang betawi akan banyak hal, bukan karena saya orang betawi bahkan saya bukan orang betawi, saya sunda, asli suku sunda, tapi saya bangga dengan orang betawi, Masyarakat betawi adalah suku yang paling welcome seIndonesia, mereka tahu negeri mereka atau tanah mereka yaitu Jakarta walau “habis diambil orang” tapi apa masyarakat betawi lalu memberontak dan mengusir suku-suku lain dari “negerinya” ? tidak. Oh yah saya jadi inget film “Si Doel” yang diperankan Rano Karno, ada satu scene dimana si doel dan keluarganya Babeh, Enyak, Atun, Mandra pergi berziarah ke makam leluhur mereka, tapi mereka malah berziarah ke lapangan golf, mereka duduk layaknya orang berziarah kubur ditengah-tengah orang-orang kaya yang sedang bermain golf yang tampak kebingungan melihat tingkah mereka.. yah tapi ternyata memang disitulah makam leluhurnya yang sudah berubah menjadi lapangan golf. Dari film si Doel yang sempat diputar di RCTI beberapa waktu lalu, juga banyak kita lihat budaya dan keseharian masyarakat betawi yang begitu kental begitu terasa, di tengah-tengah perumahan elit dan apartement mewah, masih berdiri dengan gagah sebuah rumah tradisional betawi dengan opletnya.
            Itulah masyarakat betawi, yang kata orang, betawi itu kasar kalo ngomong kayak ngajakin ribut, senggol bacok lah apalah, tapi lihat kenyataannya. Belum pernah ada beritanya perang antar suku di Jakarta?? Loh lah iyah Jakarta kan plural hampir semua suku di Indonesia bisa kita temui disana, tapi apa pernah terdengar suku betawi ngamuk mengusir suku Jawa misalnya?? Enggak pernah kan. Walau mereka terlihat kasar contohnya aja adat waktu ngelamar, masa rombongan penganten pria dihadang suruh adu pantun sama adu silat dulu? Tapi saat itulah mereka menonjolkan identitas mereka, seperti berpantun ala orang betawi dan semua orang suka pantun, lihat saja opi kumis di fesbuker saat dia berpantun itu saat yang paling ditunggu-tunggu hehe. Lalu pencak silat itu pun budaya betawi, lah orang mau ngelamar koq malah ngadu silat, hehe gak beneran koq silatnya mereka paling nunjukin kebolehan dulu dengan mendemonstrasikan jurusnya, kalo pun harus beradu paling hanya acting seperti film the raid, oh ya pemeran utama the raid Iko Uwais saja orang betawi hehe.
             Sejak kuliah di ciputat, saya punya banyak teman orang betawi, saya perhatikan mereka selalu ceria, kalau bicara memang agak keras tapi mereka semua baik,  mereka bisa berteman dengan siapa saja banyak pula dari mereka yang tidak tinggal di perumahan-perumahan. Mereka teman-teman saya yang menikmati lengangnya  Jakarta saat mudik hari raya, mereka adalah orang-orang yang merelakan setiap inci tanahnya di jamah para pendatang, mereka adalah orang-orang yang saya harap masih mempertahankan kebudayaan betawi dalam diri mereka tanpa tergerus roda pembangunan. Saya harap kelak masyarakat betawi dapat terus mempertahankan nilai-nilai betawi, dan menghasilkan si Doel- si Doel sukses yang tidak hanya menjadi engsinyur tapi juga pemimpin di “negerinya” sendiri yang membangun masyarakatnya agar tidak kalah dengan para pendatang, bukan hanya pemimpin yang “pepesan kosong”…

Rabu, 01 Februari 2012

Assalamu a'laikum wr wb....TIDAK BEDA BANK SYARIAH VS BANK KONVENSIONAL, TIDAK ADA BEDA GADAI SYARIAH VS GADAI KONVENSIONAL, TIDAK ADA BEDA ASSURANSI SYARIAH VS ASSURNSI KONVENSIONAL....

Pertanyaan2 diatas terus menggelinding bagai bola salju...baik dikelas, di FB, di koran, di seminar dan dimana-mana...suatu ketika sayapun dapat pertanyaan serupa....saya menjawab dengan tertawa....memang tidak pernah ada sistim apapun saat diimplementasikan akan benar 100%...pasti ada penyimpangan2nya...seperti halnya didalam statistik ada deviasi/penyimpangan2...dan menurut saya cara2 Islam didalam mengganti atau menyebarkan ajarannya sangtlah indah...tidak langsung menyuruh mengganti suatu kebiasaan/sistim yg sudah terjadi dimasyarakat dengan otoriter..tapi Islam dengan lemah lembut memperingati dahulu bahwa sistim ini salah...yg benar yg ini sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadist...bukankah cara berdakwah Rasulullah dan para sahabatnya dengan cara yg lemah lembut tidak langsung mengharamkan dan menyalahkan...bukankah para Wali Songo di Indonesia juga menyebarkan agama Islam dengan cara2 yg lemah lembut...dengan cara masuk melalui Gamelan, Nyanyian, Wayang Golek,..Kebudayaan2 setempat...dsbnya yg saat itu sangat digemari masyarakat...karena saat itu masyarakat masih menganut agama Hindu, Budha bahkan animisme...para wali tidak langsung...ini Bid'ah..ini Haram...tapi para wali dengan cara2 dan strategi yg Elegant memasukkan unsur2 Islami kedalamnya...tdengan cara2 indah dan lembut tsb...sehingga Dak'wh para Wali Songopun berhasil dan Islampun menjadi agama mayoritas di negeri ini. Nah relevansinya dengan topik diatas yg merupakan Dakwah atas penerapan Riba..menurut saya juga sama...perlahan tapi pasti kita mengganti dan memberi pengertian untuk mengganti Bank,Gadai,Assuransi konvensional menjadi syariah....mungkin saja saat ini didalam aplikasinya masih samar2 (tidak ada bedanya)...mari kita perbaiki secara perlahan agar aplikasinya sesuai dengan syariah...mari kita berikan solusi nya untuk memperbaikinya sesuai dengan syariah....tidak elok rasanya kalau terus menghujat...terus berteriak...terus mengkritik tapi tidak memberikan solusinya....apa mau kita hapus aja Bank Syariah...dan menyuruh Masyarakat muslim kembali ke Bank Konvensional...kan malah tambah runyam ya...mari kita perbaiki Bank Syariah, Gadai, Assuransi agar sesuai dengan prinsip syariah yg sesungguhnya....semoga Allah SWT memberikan kekuatan hati dan ketabahan kepada para Mujahid2 Ekonomi & Perbankan Syariah agar terus berjuang menerapkan sistin Keuangan & Perbankan yg anti riba dan sesuai tuntunan NYA...amin...syukran..wass
sumber: http://www.linkedin.com/groupAnswers by: Edy Setiadi, praktisi perbankan syariah

Jumat, 23 Desember 2011

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI

            Jika saya menjadi anggota DPD, dalam hal saya menduduki komite II DPD. Saya akan membuat program-program yang berkaitan dengan perkembangan daerah khususnya pada daerah-daerah tertinggal. Program-program tersebut diantaranya dengan mengembangkan sumber daya-sumber daya pada daerah.
Misalnya daerah yang dekat dengan laut maka saya akan membuat program-program terkait dengan perikanan atau tambak, saya akan mendirikan Baitul Maal untuk nelayan, kenapa Baitul maal? Karena Baitul Maal menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip syariah, Dalam hal pembiayaan misalnya terdapat pembiayaan dengan akad jual beli (murabahah, salam, istishna) dan akad kerja sama (mudharabah, musyarakah). Sehingga nelayan akan memperoleh pembiayaan untuk kebutuhan barang modal misalnya perahu, motor penggerak dan lain sebagainya dengan akad murabahah dan dengan tingkat margin yang kecil untuk baitul Maal karena prinsip Baitul Maal itu sendiri didirikan untuk kebutuhan social masyarakat. Dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, nelayan bisa menggunakan akad mudharabah atau musyarakah dengan system bagi hasil, sehingga nelayan tidak perlu mengkhawatirkan biaya tambahan lain seperti bunga, Karena Baitul Maal hanya akan mengambil keuntungan berdasarkan nisbah bagi hasil berdasarkan keuntungan nelayan dan tentunya nisbah ini akan diupayakan lebih menguntungkan nelayan. Modal awal Baitul Maal ini akan  dianggarkan dari APBD dan untuk selanjutnya kepengurusan diserahkan kepada masyarakat dengan diberikan  pelatihan-pelatihan sebelumnya. Disamping itu, saya juga akan bekerja sama dengan dinas perikanan dan kelautan untuk turut serta memberikan bantuan-bantuan kepada para nelayan baik dalam bentuk subsidi bahan bakar dan lain-lain.
Untuk daerah-daerah lain seperti daerah yang sumber pendapatannya pada pertanian dan perkebunan, saya juga akan mendirikan Baitul Maal-Baitul Maal dengan konsep yang sama dan akan membantu masyarakat dibidang pembiayaan-pmbiayaan seperti melakukan akad salam dengan petani sehingga petani tidak akan mengalami kerugian karena tingkat harga  yang rendah yang diberlakukan para tengkulak. Selain itu saya juga akan bekerja sama dengan dinas pertanian dan perkebunan untuk memberikan bantuan kepada para petani diantaranya dengan memberikan susbsidi pupuk,pestisida, dan modal penanaman dan lain-lain.
Untuk daerah yang sumberdayanya berbasis pada pertambangan energy dan sumber daya mineral. Saya akan mendesak perusahaan yang menjalankan bisnis pertambangan di daerah tersebut untuk menyerap sebanyak-sebanyaknya sumber daya manusia dari daerah tersebut dengan pemberian upah yang layak agar turut membantu perekonomian masyarakat di daerah tersebut. Selain itu saya juga akan mendirikan suatu lembaga yang memberikan pengajaran tekhnik-tekhnik dalam pertambangan kepada masyarakat sekitar daerah tersebut, sehingga masyarakat tersebut kelak bisa menggali sendiri potensi-potensi sumber daya yang diperoleh dari pertambangan agar tidak perlu memerlukan orang luar lagi. Bagi mereka yang sudah mampu dan memiliki keahlian, maka saya akan membantu mereka dalam mendirikan perusahaan pertambangannya sendiri dengan dibantu tenaga-tenaga ahli lainnya. Sehingga suatu saat  industry-industri pertambangan di daerah akan dimiliki oleh masyarakat asli pribumi dan dapat menyerap tenaga kerja daerah tersebut agar tingkat perekonomian pada daerah tersebut meningkat.
Selain  itu saya juga akan bekerja sama dengan dinas perdangan dan perindustrian untuk memodernisasi pasar-pasar di daerah dan memberikan pinjaman lunak pada industry-industri kecil di daerah agar dapat berkembang dan bersaing, selanjutnya saya akan  mendesak industry-industri besar di daerah untuk menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja.
Demikian  program yang saya jalankan  andai menjadi anggota DPD RI.

Kamis, 09 Juni 2011

pidato anak kecil di ruang sidang PBB

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.

Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia
yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita
semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami
membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.

Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali.

Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Sekeping Keyakinan

“Assalamu’alaikum!”
Salamku sambil sesekali mengetuk pintu yang terbuat dari ukiran kayu jati itu. Belum ada jawaban, kucoba sekali lagi
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Terdengar suara seseorang dari balik pintu, suara yang sudah kukenal tentunya, diiringi langkah kaki yang semakin mendekati pintu. Jantungku berdebar kencang. Kudengar decitan kunci slot dibuka.
“Eh, De Johan!”
Menyembul dari baik pintu seraut wajah yang selalu tersenyum ramah dan berwibawa, janggutnya yang lebat dan putih menandakan umurnya yang telah lanjut, peci putih yang senantiasa menutupi kepalanya menunjukan kalau dia sudah pernah menginjak tanah suci.
“Saya! Pak Haji, maaf mengganggu.”
Kucoba bersikap sesopan mungkin.
“ Ya… tidak apa-apa, mari silakan duduk!”
Ucap pak haji sambil menunjuk dan bergerak ke arah sepasang kursi kayu yang dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Seperti biasa, senyum khasnya tak pernah lepas dari wajahnya.
“Bagaimana kabarnya De Johan!”
“Baik, baik pak haji, terima kasih. Pak Haji sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah baik, oh ya ngomong-ngomong ada perlu apa Ade ke mari.?’
Waduh…. kenapa langsung to the point, pak haji langsung buat aku semakin gugup saja, padahal kan belum cukup basa-basinya. Tapi…ehm, aku harus berani akan kuutarakan maksudku yang sebenarnya.
“ E… maaf Pak Haji, e…. maksud saya …e… maksud saya anu..eh.”
Gawat! Aku makin gugup, ludahku tertelan beberapa kali, kata-kata yang sudah kupersiapkan jadi berantakan.
“Tak usah malu De! Katakan saja ayo.”
Kok aku jadi malu begini, aku malu menatap wajah pak haji, tanganku gemetar bibirku juga. Ku ambil napas panjang dan …
“Begini Pak Haji maksud saya…ee..anu.. maksud saya datang ke rumah Pak Haji Saya mau e… anu….e…..anu.” Mati aku!
“Loh kok jadi kebanyakan anu sih?”
Kata pak haji ramah dan tiba-tiba”Plok” Kurasakan tangan hangat pak haji menyentuh pundakku dan tawanya pun berderai. Bikin aku salah tingkah. Ya Tuhan aku harus bagaimana ini…
Malu-malu kuangkat kepalaku yang dari tadi menunduk, sesaat kulirik wajah pak haji. Masih terlihat tenang hanya saja sempat kulihat segurat kejenuhan di wajahnya, aku harus cepat-cepat ,tidak boleh buang waktu lagi.
“E.. Pak Haji…” Kenapa kurasakan genggamannya mengencang.
“De Johan!”
Wah gawat! Apa beliau sudah tau maksudku, kenapa pandangannya tiba-tiba berbeda seolah-olah menyelidiki sesuatu, beliau terus menatap wajahku dan yang paling membuatku takut………………..senyumnya hilang!
“ Apakah De Johan?” Wow aku benar-benar skakmat!!
“Cape?”
“Hah???” Ah.. untung saja, aku pikir beliau bisa membaca pikiranku. Beliau sanggup membuat adrenalinku terpacu cepat. Kuyakin pak haji melihat keringat yang bercucuran dari wajahku, padahal ini bukan keringat kecapean tapi keringat dingin karena gugup.
“Saya suruh Ratri ambil minum ya!”
“Eh.. Tidak usah Pak Haji!”
Genggamannya terlepas, sedangkan tasbih di jemari kirinya tak henti-hentinya diputar, bibirnya bergetar pelan. Dan jantungku… bergetar hebat.
“Ya sudah kalau begitu.”
Lagi-lagi kulihat segurat kejenuhan tadi, jadi tak ada waktu lagi sekaranglah saatnya, ehm… kuambil napas berulang kali dan sesekali sempat kutelan ludahku untuk melumasi kata-kataku nanti.
“ Baik Pak Haji, maksud saya datang kemari…” Ayo Johan!
“ Maksud saya, e… saya ingin.”Bagus Johan, sedikit lagi!
“ Saya ingin, saya ingin minta maaf sebelumnya Pak Haji.” Ah… kok basa-basi lagi, payah deh.
“Tapi kan saya belum tahu maksud De Johan, tak usah minta maaf dulu deh.”
Aku makin tertunduk saja mendengarnya, bagaimana ya ekspresi wajahnya nanti setelah kuberi tahu maksudku. Makanya aku harus cepat, jangan terlalu bertele-tele dan berbasa-basi!
“Jadi sebenarnya Pak Haji, saya ingin…”Yah hampir!
“Saya ingin, me….me….melamar putri Pak Haji.”
Ah..lega, seperti ada sesuatu beban yang berhasil kukeluarkan, eit jangan senang dulu berikutnya aku belum tahu. Perlahan kulirik wajahnya. Ah kok tetap tenang, malah bias kubilang tanpa ekspresi, pandangannya lurus ke depan hampa seolah lagi memikirkan kata-kata yang barusan kuucap.
“Jadi itu maksud De Johan datang kesini?”
Glek, aku hanya bisa menelan ludah dan menggangguk lemah. Eh, tiba-tiba beliau menoleh kearahku matanya menatap tajam ke arahku, aku salah tingkah dibuatnya.
“Sebenarnya De Johan memang sudah siap untuk menikah.”
Kalau itu aku juga tahu, tapi maksudnya apa sih?
“Dan saya lihat De johan juga sudah mapan.”
Ah lagi-lagi kalimatnya ambigu, walaupun nadanya memuji tetap aku harus bersiap menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi. Telah kusiapkan hatiku menerima jawabannya.
“Tapi saya tak bisa menikahkan Ratri dengan De Johan .”
Ah setegar apapun aku, tetap saja hatiku hancur mendengarnya.
“Memangnya kenapa Pak Haji?”
Loh kok aku berani bertanya ya?
“Karena saya hanya akan menikahkan putri saya dengan orang yang satu agama dan satu keyakinan dengan saya.”
Ternyata itu alasannya perbedaan agama. Memang sih kata orang aku tuh terlalu berani melamar anak pak haji, tapi aku sempat berpikir agama bukanlah penghalang tapi ternyata menjadi batu sandungan yang besar. Bodoh aku!!!!
“Kecuali….”
“Kecuali apa Pak Haji?”
“Kecuali kamu masuk Islam.”
“???????????”

Rabu, 08 Juni 2011

Harapan di Ujung Senja

Hanya sesekali memandangnya dari sudut mataku, dia duduk tepat di samping jendela kaca yang tertembus sinar matahari senja. Wajahnya yang putih tampak bersinar terkena cahaya yang keemasan. ingin Rasanya menatapnya lekat-lekat tapi apa daya.. rasa malu menggugurkan niatku

Dia bagai seorang putri yang berdiri diatas istana yang menjulang tinggi ke angkasa, dengan tatapan kosong kearah matahari terbenam, mungkin dia sedang memikirkan sosok pangeran yang kelak menjadi pendamping hidupnya.
Aku hanya menengadah dengan tatapan penuh kekaguman, melihatnya dari bawah istana. aku hanya orang kecil yang berharap menjadi pendampingnya kelak. Tapi sayang aku bukanlah idamannya. aku bukan sosok pangeran yang dia idamkan. Ku menunduk malu atas sekelebat khayalan indahku, yang akan tetap menjadi khayalan.

Tiba-tiba ku terbangun dari anganku, aku tak ingin terlalu lama hanyut dalam imajinasi tak tentu yang membuatku kehilangan arah dalam hidupku. Kembali kulirik dia, dia masih dalam diamnya. duduk sendiri, terpekur menatap belasan lembar kertas yang sedari tadi diamatinya dan sebuah buku tebal yang sesekali dibacanya. Matanya sejuk dan tajam, maka dari itu aku selalu berusaha menghindari pandangan mata dengannya.. Beruntung dia tak pernah melihatku. Mungkin karena aku tak pantas dilihat.

Dia sangat manis walaupun seungging senyuman sangat jarang menghiasi wajahnya. bahkan murungnya begitu indah, apalagi melihat senyumnya adalah anugerah untukku. Melihat senyum sang puteri.
"Subhanallah" Kalimat indah itu terucap begitu saja kala ku berhasil mencuri anugerah itu. Melihat senyumnya. Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk ini dengan segala pesonanya. Lagi-lagi kulihat dia dari sudut mataku, ah senyum itu terlalu cepat berlalu, namun meninggalkan kesan yang mendalam untukku. Apa yang membuatnya tersenyum? Mungkin cerita humor yang dibacanya dari buku tebal itu? Ah mana mungkin buku yang lebih mrip kamus bersusun itu memuat cerita humor. Atau karena lembaran kertas itu? Ah lembaran kertas itu lebih mirip makalah yang belum dijilid, dan mana mungkin makalah itu menggelitik syaraf sensoriknya.

Aku tak yakin dengan perasaanku, dan aku masih tak berani mengartikan ini sebagai cinta, tepatnya, ini hanya kekagumanku padanya dan penciptanya.. Pencipta segalanya. Ku bersyukur atas nikmat ini.

Kenapa tiba-tiba dia merapikan kertasnya, melipat selembar halaman buku dan kemudian menutupnya. Apa dia tahu jika aku sedang mengamatinya, atau dia merasa terganggu dengan lirikanku. Entah.
Dia peluk buku tebal itu dan beranjak dari kursi yang berdecit kala dia mengangkat tubuhnya. Masih dengan tatapan kosong, dia melangkah ke arahku melewati rak-rak buku yang berjejer sepanjang jalan, aku hanya menunduk, sunyinya ruangan membuatku dapat mendengar tiap hentakan kakinya dengan sangat jelas. Tapi hentakan jantungku jauh lebih hebat terdengar, seperti detak jantung pelari marathon yang berhenti di garis finish dan meninggalkan lawan-lawannya jauh di belakang. Aku tak tahu raut wajahnya sekarang, tak berani aku mengangkat wajahku...
Derap langkah kakinya terasa semakin dekat, bahkan semakin dekat. Ku perbaiki letak kacamataku yang sudah benar. aku gugup, kupandangi deretan matrix di layar di hadapanku yang sebenarnya tak pernah aku pedulikan dari tadi. Dia semakin dekat, ku bisa rasakan auranya.. dan..

"Pak! Saya pinjam buku ini untuk seminggu ya.."
Ku beranjak dari kursiku dengan tergesa.. Waw kini dia tepat di hadapanku.
Kutundukan kepalaku dan mengangguk dua kali tanpa bicara apapun. Dia menyodorkan selembar kartu bersama buku tebal itu dan seperti biasa kutulis tanggal pinjam di balik sampul belakang buku.
"Terima kasih Pak!" Angguknya sambil tersenyum padaku.
Ku balas dengan anggukan dan senyum semanis yang kumampu.
Mataku masih menatapnya, kala dia berjalan melewati pintu dan berakhir dengan decitan kecil seiring dengan terbatasnya pandanganku oleh pintu yang tertutup.

Ah.. "Pak" panggilan itu telah menyadarkanku bahwa ku sudah terlalu tua untuk hal seperti ini.
Aku memang sudah berkepala tiga, namun apakah itu menjadi halangan bagiku untuk mendekatinya..
Aku hanya seorang pengangguran yang hanya karena belas kasihan seseorang aku diamanati untuk menggantikannya bekerja sebagai seorang pustakawan. Belum ada yang mau menjadi pendamping hidupku, atau tepatnya tidak ada yang mau. Hidupku yang sebatang kara, ditambah penghasilanku yang ala kadarnya, rumah kontrakan dengan 3 bulan tunggakannya.. ditambah wajahku yang jauh dari rupawan. Sedangkan dia seorang mahasiswi yang rajin menjelajahi tiap sudut di perpustakaan umum ini, wajahnya biasa saja, namun sarat dengan pesona keindahan. Dia selalu duduk dibawah jendela tiap senja, membaca buku-buku tebal dan menulis sesuatu pada lembaran-lembaran kertas yang dibawanya, baru kali ini dia meminjam buku, baru kali ini dia tersenyum padaku dan baru kali ini aku melihatnya dari jarak dekat. Andai dia bersedia duduk bersamaku dalam pelaminan kelak...

Ah apa aku terlalu banyak berharap...??
Menikah...!!
Di usiaku yang sekarang..

Harapan itu masih dan akan selalu ada,

Surat dari Masa Depan

Kepada Yth
Manusia
Di
Tahun 2011

Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun.

Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.

Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.

Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral.

Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.

Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja.

Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: “JANGAN MEMBUANG BUANG AIRâ€
Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.

Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.

Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.

Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.

Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.

Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.

Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.

Morphology manusia mengalami perubahan yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.

Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon]

Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari kawasan ventilasi yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.

Udara yang tersedia di dalam kawasan ventilasi tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun.

Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.

Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.

Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.

Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.

Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?

Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..

Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga !.

Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya, Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.

Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi. Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini !

Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang.

Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita.

Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak

“AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPANâ€