Kamis, 09 Juni 2011

pidato anak kecil di ruang sidang PBB

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.

Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia
yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita
semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami
membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.

Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali.

Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Sekeping Keyakinan

“Assalamu’alaikum!”
Salamku sambil sesekali mengetuk pintu yang terbuat dari ukiran kayu jati itu. Belum ada jawaban, kucoba sekali lagi
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Terdengar suara seseorang dari balik pintu, suara yang sudah kukenal tentunya, diiringi langkah kaki yang semakin mendekati pintu. Jantungku berdebar kencang. Kudengar decitan kunci slot dibuka.
“Eh, De Johan!”
Menyembul dari baik pintu seraut wajah yang selalu tersenyum ramah dan berwibawa, janggutnya yang lebat dan putih menandakan umurnya yang telah lanjut, peci putih yang senantiasa menutupi kepalanya menunjukan kalau dia sudah pernah menginjak tanah suci.
“Saya! Pak Haji, maaf mengganggu.”
Kucoba bersikap sesopan mungkin.
“ Ya… tidak apa-apa, mari silakan duduk!”
Ucap pak haji sambil menunjuk dan bergerak ke arah sepasang kursi kayu yang dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Seperti biasa, senyum khasnya tak pernah lepas dari wajahnya.
“Bagaimana kabarnya De Johan!”
“Baik, baik pak haji, terima kasih. Pak Haji sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah baik, oh ya ngomong-ngomong ada perlu apa Ade ke mari.?’
Waduh…. kenapa langsung to the point, pak haji langsung buat aku semakin gugup saja, padahal kan belum cukup basa-basinya. Tapi…ehm, aku harus berani akan kuutarakan maksudku yang sebenarnya.
“ E… maaf Pak Haji, e…. maksud saya …e… maksud saya anu..eh.”
Gawat! Aku makin gugup, ludahku tertelan beberapa kali, kata-kata yang sudah kupersiapkan jadi berantakan.
“Tak usah malu De! Katakan saja ayo.”
Kok aku jadi malu begini, aku malu menatap wajah pak haji, tanganku gemetar bibirku juga. Ku ambil napas panjang dan …
“Begini Pak Haji maksud saya…ee..anu.. maksud saya datang ke rumah Pak Haji Saya mau e… anu….e…..anu.” Mati aku!
“Loh kok jadi kebanyakan anu sih?”
Kata pak haji ramah dan tiba-tiba”Plok” Kurasakan tangan hangat pak haji menyentuh pundakku dan tawanya pun berderai. Bikin aku salah tingkah. Ya Tuhan aku harus bagaimana ini…
Malu-malu kuangkat kepalaku yang dari tadi menunduk, sesaat kulirik wajah pak haji. Masih terlihat tenang hanya saja sempat kulihat segurat kejenuhan di wajahnya, aku harus cepat-cepat ,tidak boleh buang waktu lagi.
“E.. Pak Haji…” Kenapa kurasakan genggamannya mengencang.
“De Johan!”
Wah gawat! Apa beliau sudah tau maksudku, kenapa pandangannya tiba-tiba berbeda seolah-olah menyelidiki sesuatu, beliau terus menatap wajahku dan yang paling membuatku takut………………..senyumnya hilang!
“ Apakah De Johan?” Wow aku benar-benar skakmat!!
“Cape?”
“Hah???” Ah.. untung saja, aku pikir beliau bisa membaca pikiranku. Beliau sanggup membuat adrenalinku terpacu cepat. Kuyakin pak haji melihat keringat yang bercucuran dari wajahku, padahal ini bukan keringat kecapean tapi keringat dingin karena gugup.
“Saya suruh Ratri ambil minum ya!”
“Eh.. Tidak usah Pak Haji!”
Genggamannya terlepas, sedangkan tasbih di jemari kirinya tak henti-hentinya diputar, bibirnya bergetar pelan. Dan jantungku… bergetar hebat.
“Ya sudah kalau begitu.”
Lagi-lagi kulihat segurat kejenuhan tadi, jadi tak ada waktu lagi sekaranglah saatnya, ehm… kuambil napas berulang kali dan sesekali sempat kutelan ludahku untuk melumasi kata-kataku nanti.
“ Baik Pak Haji, maksud saya datang kemari…” Ayo Johan!
“ Maksud saya, e… saya ingin.”Bagus Johan, sedikit lagi!
“ Saya ingin, saya ingin minta maaf sebelumnya Pak Haji.” Ah… kok basa-basi lagi, payah deh.
“Tapi kan saya belum tahu maksud De Johan, tak usah minta maaf dulu deh.”
Aku makin tertunduk saja mendengarnya, bagaimana ya ekspresi wajahnya nanti setelah kuberi tahu maksudku. Makanya aku harus cepat, jangan terlalu bertele-tele dan berbasa-basi!
“Jadi sebenarnya Pak Haji, saya ingin…”Yah hampir!
“Saya ingin, me….me….melamar putri Pak Haji.”
Ah..lega, seperti ada sesuatu beban yang berhasil kukeluarkan, eit jangan senang dulu berikutnya aku belum tahu. Perlahan kulirik wajahnya. Ah kok tetap tenang, malah bias kubilang tanpa ekspresi, pandangannya lurus ke depan hampa seolah lagi memikirkan kata-kata yang barusan kuucap.
“Jadi itu maksud De Johan datang kesini?”
Glek, aku hanya bisa menelan ludah dan menggangguk lemah. Eh, tiba-tiba beliau menoleh kearahku matanya menatap tajam ke arahku, aku salah tingkah dibuatnya.
“Sebenarnya De Johan memang sudah siap untuk menikah.”
Kalau itu aku juga tahu, tapi maksudnya apa sih?
“Dan saya lihat De johan juga sudah mapan.”
Ah lagi-lagi kalimatnya ambigu, walaupun nadanya memuji tetap aku harus bersiap menghadapi kemungkinan apapun yang akan terjadi. Telah kusiapkan hatiku menerima jawabannya.
“Tapi saya tak bisa menikahkan Ratri dengan De Johan .”
Ah setegar apapun aku, tetap saja hatiku hancur mendengarnya.
“Memangnya kenapa Pak Haji?”
Loh kok aku berani bertanya ya?
“Karena saya hanya akan menikahkan putri saya dengan orang yang satu agama dan satu keyakinan dengan saya.”
Ternyata itu alasannya perbedaan agama. Memang sih kata orang aku tuh terlalu berani melamar anak pak haji, tapi aku sempat berpikir agama bukanlah penghalang tapi ternyata menjadi batu sandungan yang besar. Bodoh aku!!!!
“Kecuali….”
“Kecuali apa Pak Haji?”
“Kecuali kamu masuk Islam.”
“???????????”

Rabu, 08 Juni 2011

Harapan di Ujung Senja

Hanya sesekali memandangnya dari sudut mataku, dia duduk tepat di samping jendela kaca yang tertembus sinar matahari senja. Wajahnya yang putih tampak bersinar terkena cahaya yang keemasan. ingin Rasanya menatapnya lekat-lekat tapi apa daya.. rasa malu menggugurkan niatku

Dia bagai seorang putri yang berdiri diatas istana yang menjulang tinggi ke angkasa, dengan tatapan kosong kearah matahari terbenam, mungkin dia sedang memikirkan sosok pangeran yang kelak menjadi pendamping hidupnya.
Aku hanya menengadah dengan tatapan penuh kekaguman, melihatnya dari bawah istana. aku hanya orang kecil yang berharap menjadi pendampingnya kelak. Tapi sayang aku bukanlah idamannya. aku bukan sosok pangeran yang dia idamkan. Ku menunduk malu atas sekelebat khayalan indahku, yang akan tetap menjadi khayalan.

Tiba-tiba ku terbangun dari anganku, aku tak ingin terlalu lama hanyut dalam imajinasi tak tentu yang membuatku kehilangan arah dalam hidupku. Kembali kulirik dia, dia masih dalam diamnya. duduk sendiri, terpekur menatap belasan lembar kertas yang sedari tadi diamatinya dan sebuah buku tebal yang sesekali dibacanya. Matanya sejuk dan tajam, maka dari itu aku selalu berusaha menghindari pandangan mata dengannya.. Beruntung dia tak pernah melihatku. Mungkin karena aku tak pantas dilihat.

Dia sangat manis walaupun seungging senyuman sangat jarang menghiasi wajahnya. bahkan murungnya begitu indah, apalagi melihat senyumnya adalah anugerah untukku. Melihat senyum sang puteri.
"Subhanallah" Kalimat indah itu terucap begitu saja kala ku berhasil mencuri anugerah itu. Melihat senyumnya. Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk ini dengan segala pesonanya. Lagi-lagi kulihat dia dari sudut mataku, ah senyum itu terlalu cepat berlalu, namun meninggalkan kesan yang mendalam untukku. Apa yang membuatnya tersenyum? Mungkin cerita humor yang dibacanya dari buku tebal itu? Ah mana mungkin buku yang lebih mrip kamus bersusun itu memuat cerita humor. Atau karena lembaran kertas itu? Ah lembaran kertas itu lebih mirip makalah yang belum dijilid, dan mana mungkin makalah itu menggelitik syaraf sensoriknya.

Aku tak yakin dengan perasaanku, dan aku masih tak berani mengartikan ini sebagai cinta, tepatnya, ini hanya kekagumanku padanya dan penciptanya.. Pencipta segalanya. Ku bersyukur atas nikmat ini.

Kenapa tiba-tiba dia merapikan kertasnya, melipat selembar halaman buku dan kemudian menutupnya. Apa dia tahu jika aku sedang mengamatinya, atau dia merasa terganggu dengan lirikanku. Entah.
Dia peluk buku tebal itu dan beranjak dari kursi yang berdecit kala dia mengangkat tubuhnya. Masih dengan tatapan kosong, dia melangkah ke arahku melewati rak-rak buku yang berjejer sepanjang jalan, aku hanya menunduk, sunyinya ruangan membuatku dapat mendengar tiap hentakan kakinya dengan sangat jelas. Tapi hentakan jantungku jauh lebih hebat terdengar, seperti detak jantung pelari marathon yang berhenti di garis finish dan meninggalkan lawan-lawannya jauh di belakang. Aku tak tahu raut wajahnya sekarang, tak berani aku mengangkat wajahku...
Derap langkah kakinya terasa semakin dekat, bahkan semakin dekat. Ku perbaiki letak kacamataku yang sudah benar. aku gugup, kupandangi deretan matrix di layar di hadapanku yang sebenarnya tak pernah aku pedulikan dari tadi. Dia semakin dekat, ku bisa rasakan auranya.. dan..

"Pak! Saya pinjam buku ini untuk seminggu ya.."
Ku beranjak dari kursiku dengan tergesa.. Waw kini dia tepat di hadapanku.
Kutundukan kepalaku dan mengangguk dua kali tanpa bicara apapun. Dia menyodorkan selembar kartu bersama buku tebal itu dan seperti biasa kutulis tanggal pinjam di balik sampul belakang buku.
"Terima kasih Pak!" Angguknya sambil tersenyum padaku.
Ku balas dengan anggukan dan senyum semanis yang kumampu.
Mataku masih menatapnya, kala dia berjalan melewati pintu dan berakhir dengan decitan kecil seiring dengan terbatasnya pandanganku oleh pintu yang tertutup.

Ah.. "Pak" panggilan itu telah menyadarkanku bahwa ku sudah terlalu tua untuk hal seperti ini.
Aku memang sudah berkepala tiga, namun apakah itu menjadi halangan bagiku untuk mendekatinya..
Aku hanya seorang pengangguran yang hanya karena belas kasihan seseorang aku diamanati untuk menggantikannya bekerja sebagai seorang pustakawan. Belum ada yang mau menjadi pendamping hidupku, atau tepatnya tidak ada yang mau. Hidupku yang sebatang kara, ditambah penghasilanku yang ala kadarnya, rumah kontrakan dengan 3 bulan tunggakannya.. ditambah wajahku yang jauh dari rupawan. Sedangkan dia seorang mahasiswi yang rajin menjelajahi tiap sudut di perpustakaan umum ini, wajahnya biasa saja, namun sarat dengan pesona keindahan. Dia selalu duduk dibawah jendela tiap senja, membaca buku-buku tebal dan menulis sesuatu pada lembaran-lembaran kertas yang dibawanya, baru kali ini dia meminjam buku, baru kali ini dia tersenyum padaku dan baru kali ini aku melihatnya dari jarak dekat. Andai dia bersedia duduk bersamaku dalam pelaminan kelak...

Ah apa aku terlalu banyak berharap...??
Menikah...!!
Di usiaku yang sekarang..

Harapan itu masih dan akan selalu ada,

Surat dari Masa Depan

Kepada Yth
Manusia
Di
Tahun 2011

Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun.

Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.

Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.

Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral.

Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.

Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja.

Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: “JANGAN MEMBUANG BUANG AIRâ€
Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.

Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.

Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.

Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.

Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.

Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.

Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.

Morphology manusia mengalami perubahan yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.

Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon]

Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari kawasan ventilasi yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.

Udara yang tersedia di dalam kawasan ventilasi tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun.

Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.

Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.

Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.

Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.

Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?

Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..

Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga !.

Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya, Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.

Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi. Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini !

Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang.

Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita.

Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak

“AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPANâ€

Indonesia is The Lost Atlantis

Rabu 9 maret 2011, setelah mengerjakan shalat dzuhur berjamaah, saya dan teman-teman bergegas turun dari mesjid menuju fakultas untuk mengikuti satu mata kuliah lagi yaitu ekonomi  pembangunan,  lokalnya yang terletak dilantai kedua paling atas, membuat kami memilih untuk menggunakan lift,  walaupun harus berdesak-desakan dan berebut celah dengan mahasiswa yang lain.

Saat saya membuka pintu kelas sambil mengucapkan salam, ternyata pak dosen sudah berdiri di depan kelas sambil sesekali mennggoreskan spidolnya kemuka papan tulis. Ku pandangi deretan kursi yang kosong dan kupilih satu kursi kosong yang letaknya berada di tengah barisan.Sepertinya dosen masih memperkenalkan dirinya, aku tertinggal sesi dimana dosen memperkenalkan namanya dan saat ini beliau sedang menceritakan riwayat pendidikannya. Namun tak apa karena ku lihat sebuah nama telah terpampang di muka papan tulis dan, oh “Pak Jaka”.

Saya sangat suka dengan gaya bicara beliau, tidak kaku dan serius  namun santai dan akrab. Walau kutertinggal namun ku sempat mendengar beliau menyebut nama sebuah pondok pesantren dan beliau adalah alumni dari pondok itu, hemmm mungkin ini yang membuat gaya bicara beliau begitu nyaman disimak.

Kata demi kata terucap dari mulut beliau, saat menceritakan kisah dan riwayat pendidikannya, kadang diselingi dengan lelucon dan mengundang gelak tawa para mustami’nya. Selesai memperkenalkan diri, beliaupun memperkenalkan mata kuliah yang akan diajarkannya. Namun bahasan beliau tidak hanya terfokus pada mata kuliah itu, beliau terkadang meberikan kata-kata yang memotivasi kami para mahasiswa, diantaranya beliau mengatakan bahwa islam sebenarnya mengajak umatnya untuk menjadi orang yang kaya lewat perintah kewajiban zakat, karena kewajiban zakat hanya bagi mereka yang hartanya telah  memenuhi nisab yang berarti mampu dan berarti pula kaya.

Namun dari semua kalimat-kalimat motivasi yang beliau berikan, ada satu kalimat yang membuatku  bergetar saat mendengarnya pertama kali, entah karena penyampaian beliau yang bersemangat atau karena memang kalimat itu mempunyai arti yang besar. Dan kalimat itu adalah “Atlantis yang hilang adalah Indonesia”.
Pikiranku tiba-tiba berfantasi sendiri, mengingat-ingat kata Atlantis,  Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh suatu bangsa yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari yang Kuasa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu. Pencarian dilakukan di Samudera Atlantik, Laut Tengah, Karibia, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata sehingga ada orang yang mengatakan bahwa Atlantis is in Plato’s mind.

Yah, Atlantis adalah sebuah benua kaya dan makmur yang dihuni  oleh bangsa yang berperadaban tinggi, dan mungkinkah itu Indonesia. Aku mulai tidak konsentrasi lagi dengan pak dosen yang masih memberikan pengantar mata kuliah ini. Pikiranku masih menerawanng. Namun ketika beliau kembali mengucapkan atlantis, pikiranku kembali terfokus pada beliau dan beliau kembali memberikan semangat baru, “Jika memang Indonesia dulu adalah Atlantis, yang merupakan negara berperadaban sangat tinggi waktu itu lantas mengapa sekarang kita menjadi bangsa yang tertinggal? Jika indonesia adalah Atlantis maka Indonesia adalah ibu dari peradaban dan kebudayaan manusia sekarang. Mari kita kembalikan kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pernah menjadi ibu dari peradaban.”

Sampai dirumah, kurebahkan badan dan pikiranku masih menerawang tentang Atlantis dan Indonesia, kuhancurkan rasa penasaranku dengan membuka internet dan memberikan dua kata kunci pada mbah Google yaitu Atlantis dan Indonesia.
Subhanallah.. ternyata pendapat yang menyatakan bahwa Atlantis yang hilang adalah Indonesia sudah dikemukakan oleh  Prof. Arysio Nunes Dos Santos seekitar 30 tahun yang lalu lewat bukunya yang menggemparkan dunia “Atlantis The Lost Continents Finally Found” dan lokasi benua yang dikatakan hilang sejak 11.600 tahun yang lalu itu adalah di  Indonesia.

 Ilmu yang digunakan Prof. Santos dalam menelusuri lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology. Buku Santos sewaktu ditanyakan ke ‘Amazon.com’ seminggu yang lalu ternyata habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah sites di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos selama ini telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visitors. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen pun dari Pemerintah RI.

Plato pernah menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World). Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Tuhan Yang Maha kuasa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat. Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan. Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene).

Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.
Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleistocene secara dramatis.

Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang. Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.
Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain. Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama. Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.,

Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.
Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini. Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.
Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara. Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut. Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia. Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.
Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik. Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.
Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia. Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia. Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.
Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun. Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.
Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang dipergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan sebaliknya. Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.
Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ? Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ?
Coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh, semburan lumpur panas di Jawa Timur, bahkan yang terebaru letusan gunung merapi, tsunami di Mentawai dan banjir bandang di wasior. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat  mengatasinya.

Ah.. tak terasa sudah larut, ku matikan komputerku dan beranjak untuk berwudhu dan mengerjakan sholat isya, Ya Allah.. bayangan Atlantis masih hadir di sela doaku dan ku berharap semoga Indonesia bisa memperoleh kejayaannya kembali seperti Atlantis yang menjadi Negara impian bagi banyak orang, Namun bukan hanya Atlantis yang berperadaban tinggi namun Atlantis yang beradab tinggi, Atlantis yang mengulang masa kejayaannya tanpa harus mengulang masa kehancurannya. Sekalipun Indonesia bukanlah Atlantis, namun semangat dan cita-cita luhur bangsa sebagai Negara yang kaya dan makmur seharusnya diimbangi dengan kecerdasan dan kemajuan dari berbagai aspek, karena Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah, letak geografis yang menguntungkan dan sumber daya manusia yang banyak sangat berpotensi menjadi Negara yang maju, kaya dan sejahtera.